Money… Money… Money

Satu hari ketemu coretan ini di kamar anak cewek. Dia masih kelas 5 SD. Saya tahu ada kejadian dimana dia mesti membatalkan satu janji yang lain dan “diancam” untuk mengganti tiket pesawat yang dibatalkan (dengan uangnya sendiri). Dia lebih milih bersama sepupunya yang datang bersamaan.

Sebenarnya semua adalah saudara. Tapi karena menerima “ancaman” (mungkin lebih tepat bujukan) supaya dia tidak membatalkan janji dan keluar uang untuk mengganti tiket pesawat, dia lebih memilih mengeluarkan tabungan. Tiket “High Season” tidak murah, tapi seakan nilai uang tidak ada arti bagi seorang anak.

Nurut saya sih, ada konsekuensi dari tiap pilihan. Jika memang sanggup dijalanin ya lakukan saja. Perubahan keputusan dalam perjalanan waktu juga wajar. Hal yang sebelumnya samar jadi jelas dan keputusan yang telah diambil dirubah. (jadwal kedatangan sepupunya masih tidak pasti sebelumnya).

Pergi kluyuran jauh dalam keadaan terpaksa itu tidak enak. Jika konsekuensi hanya berupa uang, bayar saja.

Coretan di atas juga mengingatkan diri ini. Uang itu selalu jujur untuk bicara. Tidak masalah. Jika sanggup, tuntaskan dan tinggal ngopi saja. Urusan selesai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s