Rapor => repot :)

Tulisan ringan buat latihan nulis 1000 kata….. Resiko ditanggung sendiri kalau baca. Sudah saya ingatkan!

Satu senjata utama sekolah adalah rapor. Tidak dinamakan sekolah kalau tidak ada rapor. Guru buat rapor, murid terima rapor. Guru gak buat rapor gak gajian, murid gak bayar SPP gak dapat rapor. Benar ?

Kalau hobby liat film perang atau sejarah soal perang dunia I dan II, yach proses pembuatan rapor seperti suasana industri pembuatan alat-alat perang tempo lalu. Ini seperti ban berjalan. Tiap titik ada inspeksi dan penilaian. Apakah kualitas sudah terpenuhi ? Jangan sampai namanya chasis tank keluar jalur perakitan terus jatuh penyok. Tidak memenuhi kriteria tertentu? Singkirkan atau kirim ke unit perbaikan.

Di era informasi , bayangan saya soal sekolah seperti suasana kantor Google atau Apple jauh panggang dari api. Kalau gak suka yang berbau asing, okelah suasana warkop pojok gang lol . Istilah buzzword – IoT (Internet of Things) tidak terbayang sama sekali jika melihat suasana sekolah saat ini. Tenang…ini bukan sekolah Anda yach 🙂

Jadi rapor yang baik mesti mulai dari material yang masuk. Material ini sudah harus memenuhi kualitas tertentu. Jangan sampai Anda menyuplai mur yang gak bisa kencan sama baut untuk ukuran yang sama. Dengan kata lain, sekolah yang dikatakan “baik ” juga harus menerima material dasar alias murid yang juga “baik”. Kalau tidak, proses produksi akan kacau. Bisa-bisa pesawat terbang “nyungsep” kena hujan sekali.

Berkait paragraf di atas, hapus mimpi indah Anda jika tujuan mengirim anak ke sekolah supaya anak Anda yang jelek menjadi lebih baik. Memang nasib Anda punya anak yang jelek dan tidak masuk kriteria sekolah yang baik. Ingat, sekolah yang baik mensyaratkan material dasar yang baik juga. Kalau kelakuan anak Anda kacau balau, jangan kirim ke sekolah. Akibat terparah paling-paling anak Anda disingkirkan karena dianggap cacat produksi.

Kenapa begitu ? Karena rapor dibuat berdasar penilaian ala industri. Seperti inspeksi roda berjalan dengan jadwal dan metode yang terstruktur dan pasti. Pada tempat dan ruang tertentu. Dengan perhitungan segala aspek yang berdasar kompetensi, kualitas, kemampuan, sikap, sifat, keimanan, takwa , perilaku, relasi sosial, kreatifitas, kedisiplinan, ….Anda tambahkan sendiri jenis kata-kata suci ini.

Semangat sekolah untuk membuat anak yang jelek jadi baik sudah kalah fokus dengan kebutuhan mengisi rapor yang baik. Saya sampai menduga kebijakan soal rapor diambil sama para pakar yang kurang ngopi di warkop sebrang kali. Kebanyakan duduk di kantor ber-AC sambil nonton sepak bola.

Tidak ada namanya rapor diisi sambil ngopi di warung. Tidak ada cerita anak-anak ujian sambil jalan-jalan di mal. Semua serba terstruktur dan pasti. Tercermin dari jadwal atau agenda sekolah yang tertempel di papan pengumuman.

Rapor juga punya nilai minimal untuk diisi. Semakin tinggi nilai minimal itu dibanding sekolah lain, semakin hebat sekolah tersebut. Kalau jaman dulu, asisten pabrik yang cantik buat rapornya santai apa adanya, jaman sekarang para guru buat rapor banyak repot karena banyak kriteria ini itu.

Syarat nilai rapor yang sah juga semakin tinggi. Jika dulu kaleng susu penyok sedikit masih diterima, sekarang dianggap berbahaya. Kriteria kualitas industri diterapkan dengan ketat. Meleset sekian mili? Kasih stempel KW III. Perbedaan jaman dulu dan sekarang : Kalau dulu nilai 6 masih dianggap normal alias cukup, sekarang sudah masuk kategori tidak normal alias gila Hehehe. Jadi kalau anak Anda dapat nilai 6, siap-siap untuk disingkirkan atau dianggap tidak memenuhi syarat.

Rapor adalah roda industri dunia sekolah.

Rapor dibuat supaya memuaskan banyak orang. Mulai dari bawah sampai level atas. Sekolah punya ortu murid atau stake holder yang butuh laporan perkembangan anak. Jangan sampai sekolah tidak bikin rapor dan bikin ortu pusing 7 keliling. Selain sekolah ada dinas pendidikan yang butuh laporan juga. Rapor adalah salah satu dari banyak komponen yang perlu dilaporkan oleh sekolah. Dinas pendidikan punya pemerintah juga berlapis-lapis. Mulai dari level lurah, kecamatan, kota, provinsi, sampai tingkat nasional.

Lebih baik lagi jika laporan yang sama diminta berkali-kali oleh tiap tingkatan . Rapor dan laporan tetek bengek dikirim ke level kecamatan, terus besok ke level provinsi misalnya. lebih asyik lagi jika format berbeda. (meski isinya sama).

Kalau dulu proses inspeksi dilakukan manual, jaman sekarang agak otomatis. Paling tidak ada CCTV di tiap kelas. Absensi juga pakai sidik jari. Jadi tidak bisa titip absen buat guru atau murid yang mau bolos. Kalau dulu laporan/rapor dibuat tertulis manual. Sekarang biar lebih keren jadi online. Tapi tetap harus ada hitam di atas putih.

Jika rapor membuat repot, kenapa tetap perlu ada ? Lha kembali ke unsur yang perlu dipuaskan itu. Sebagai ortu mau sekolah gak kasih rapor ? Terus bagaimana bisa tau perkembangan anak jika tak ada rapor ? Lebih repot lagi karena nilai di rapor bisa jadi simbol status bagi ortu. Rapor memang repot karena simbol roda industri sekolah (maaf ya) ini mensyaratkan perbandingan. Satu nilai anak dibandingkan dengan nilai anak yang lain.

Rapor juga merupakan sarana kontrol. Istilahnya siapa mengkontrol siapa ? Awas ya ! Anak loe bisa tinggal kelas jika nilai XYZ tidak baik akhir semester. Heemm sebenarnya karena gak bisa dan jelek , makanya gue kirim ke sekolah supaya sama-sama ortu bisa buat baik. Rapor sebagai sistem kontrol itu perlu dan bisa jadi senjata untuk saling ancam. Memang saling mengancam membuat bayangan saya ke tokoh Korut dengan tombol nuklirnya.. plus potongan rambutnya.

Semakin banyak keperluan untuk mengontrol, katanya sih semakin banyak lagi yang perlu dikontrol, begitu seterusnya. Lama-lama selain belajar mengisi rapor yang ideal , perlu belajar mikrokontroler hehehe.  Jika ada ratusan baris program untuk mengontrol, hilang atau keliru satu koma saja tidak bisa jalan.

Ngomong panjang lebar terus solusinya apa? Gampang, biar rapor itu yang isi anak-anak hahaha. Biar mereka saling isilah…  Gendeng! Lha asal omong atau nulis khan mudah aja. Banyak pakar soal sekolah apalagi soal rapor, kenapa mesti melihat tulisan ini ? Ini khan asal jawaban agar memenuhi kuota tulisan.

Apa mencari solusi itu mudah jika dibanding menulis 1000 kata ? Menulis 1 paragraf saja susah bagi yang tidak terbiasa, apalagi 1000 kata. Kebanyakan solusi soal rapor pun hanya copy , paste, share pemikiran orang hehehe. Kalau disuruh menulis sendiri sudah megap-megap angkat tangan.

Katanya, solusi itu seperti menjawab pertanyaan soal hidup. Ketika jawaban yang dicari datang, hidup sudah merubah pertanyaannya hehehe.

Lumayan juga latihan nulis kali ini 😉 Jika Anda membaca dari awal sampai akhir dan menikmati, syukurlah. Jika tidak , juga gak masalah. Tidak perlu kuatir, soal rapor ini terjadi di sekolah-sekolah planet Mars.

Peace !

 

Dikirimkan di Skul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s