Mie Instan & Suplemen

Matinya “Common sense”?

Vitamin C plus plus ini dari rumput laut (kutub selatan). Hasil riset puluhan tahun para peneliti abal-abal. Jaminan lebih tokcer dari buah jeruk pinggir jalan (sebelah tiang listrik yang pesing?) Yang benar aja bro! Wkwkwk.

Katanya, menghadapi aneka virus dari Alfa sampai Omega, perlu pasokan harian multivitamin, mineral, dan aneka booster. Jika virusnya spesial, kemasan vitamin juga spesial. Pabriknya juga mesti spesial (di laboratorium ruang angkasa). Cara bikinnya juga mesti istimewa. Sambil dengerin lagu “badai pasti berlalu”.

Orang pakai suplemen kadang kalahin hobby anak kost makan mie instan lol. Semakin banyak semakin kenyang. Jika bisa 10 macam kenapa cuma 3? Variasi suplemen kayak variasi rasa mie instan…11-12 lol. Mau rasa rendang sampai ayam balado ada semua.

Cuma bedanya, harga suplemen yang dijual bisa untuk bayar kost berapa bulan. Ada harga ada rupa bro! Yang baik itu gak ada yang murahan. Nasib anak kost wkwkwk.

Bagi anak kost, cukup mie instan sama vitamin generik murah meriah. Itupun kalau kepikir. (Pokoknya vaksin sudah beres dan prokes jalan terus).

Lha bagaimana? Produk suplemen dengan iklan premium butuh modal uang bukan dengkul anak kost yang kopong. Share sana-sini, rekrut member di mall juga perlu biaya. Istilah keren pasti agar terlihat elit dan tokcer. Gak cocok sih buat anak kost.

Mana ada promosi suplemen ala poster tempel di tiang listrik wkwkwk. Setiap waktu, tiang ini mendapat siraman. Entah dari manusia bejat atau anjing nyasar. Mana ada lobby dilakukan di warkop 3 ribuan? Lha yang mau diomong soal bonus kluyuran ke kutub utara :).

Yach.. Semua serba instan plus terukur. Bagi anak kost, solusi kepepet bagi perut lapar adalah 2 bungkus mie instan. Syukur kalau ada telor ceplok. Entah kandungan gizi bisa buat dongkrak otak saat ngerjakan deret Fourier atau nggak tak masalah. Yang penting perut tak lapar.

Vitamin C, normalnya tubuh butuh 90mg sehari. Bagaimana kalau dikasih 1000mg/hari? Khan tidak semua terserap tubuh? Soalnya usus halus manusia lebih milih sari sate kambing dibanding vitamin C. Apalagi kalau slow release. Bayangkan adegan ranjang cuma 1-2 menit trus keluar. Mana puas?

Itu masih C. Belum yang D. Market perlu diversifikasi. Ada yang fans D2, ada yang lulusan D3, dan ada yang kecentok sama D7? Lulusan D3 itu masih kurang. D4 lebih oke. Bagaimana jika dicampur jadi satu? Iya sih…Matahari sudah panas bikin kulit gosong pula.

Trus bagaimana Omega dari ikan mujair? Ini pasti lebih oke dari ikan Salmon. Kalau mujair kurang keren, ganti ikan cukil saja. Yach… omega 77 dari ikan cukil yang susah dapat. Jika ikan cukil bisa bertahan dari limbah merkuri, apalagi omega 77 pastinya anti merkuri. Ingat tidak ada virus yang tahan sama sisa merkuri dari ikan cukil.

Manusia butuh suplemen agar aman sejahtera. Atlet basket sampai atlet panjat tiang di kampung pakai ini suplemen. Apalagi kondisi pandemi. Suplemen ini seperti rudal S500 Prometeus. Pesawat model apapun yang lewat pasti nyungsep.

Memang lebih mantap keluar 1 juta buat suplemen made in XYZ yang buatnya di laboratorium stasiun Mars. Dibanding beli buah di pasar yang becek. Belum lagi isu semprotan hama agar buah awet sampai 7 generasi.

Lha terus?

Ya udah, nanti libur makan mie instan. Makan nasi campur sama es campur saja dech. Yakin kandungan vit A sampai Z ada semua. 🙂

Dikirimkan di Life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s