Sinetron, Iklan, dan secangkir Kopi

Hampir gak pernah liat TV di rumah, tapi lain cerita kalau di warkop. Mana ada warkop jaman Now yang gak pasang WIFI sama TV kalau pingin ramai. Ini kesempatan terbaik buat liat sinetron masa kini 🙂

Mestilah pemain sinetron dipilih model cantik buat bersaing perhatian. Model HP sekarang selain enak dipegang juga asyik diperhatikan. Ceritanya, penonton gantian selingkuh antara layar HP sama layar TV. Makanya yang buat sinetron sama iklan sering Kong kalikong. Biar pas strateginya. Pas di Hp, pas di TV, pas di sinetron hehehhe.

Gak heran juga, iklan di medsos banyak diakses lewat HP, jadi ini tambang emas juga. Dimana-mana ada iklan. Tanpa iklan siapa yang tahu? Dunia digital sudah penuh sesak macam-macam hal. Tanpa iklan, satu bisnis apapun akan klepek-klepek.

Iklan memang mengganggu saat liat adegan asmara. Sinetron, meski gak jelas alurnya (karena gak ngikuti). Ini tetap menghibur. Bahasa cinta itu universal ya. Tidak masalah gak tau judul sinetron. Pemeran yang cantik itupun ya gak tau juga namanya. Malu juga tanya sama penonton siapa nama aktris itu.

Baiklah, iklan tidak selamanya mengganggu. Kadang iklan itu baru pertama saya lihat. Jadi saya nikmati saja kalau bagus. Cuma mantra iklan yang mesti diulang banyak kali agar nancap dibenak pemirsa lama-lama menyebalkan. Tidak apa sih penonton benci iklan, yang penting pas ke swalayan ingat produk itu. Yach ini efek mantra berulang.

Paling gak, lewat sinetron sama iklan, fantasi penonton terhibur akan kisah cinta nenek sihir eh Xinderela. Meski hanya sebatas imajinasi, ini bisa melupakan beban hidup yang berat.

Mengurangi efek mantra iklan, (kadang) saya ngetik blog saja pas di warkop. Ok, sambil sekali-kali liat layar TV. Dan aneh, banyak ide mengalir dalam kondisi ini. Secangkir kopi banyak membantu.

Menulis itu butuh berpikir. Jadi aktivitas ini menegaskan kesadaran. Sadar kalau kisah hidup saya gak sama dengan kisah sinetron. Sadar kalau yang ditawarkan iklan tidak diperlukan (kebanyakan). Menulis, berpikir, menyusun kalimat, paling gak bawah sadar lebih kebal sama mantra iklan. Mungkin ya hehehe.

Peace!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s