eSports Vs Harapan Ortu

Tiap anak punya jalan hidup sendiri-sendiri. Bagi saya sederhana saja: Selama suka dan buat happy jalani saja. Mau jadi apa kek atau melakukan apa terserah. Yang penting bertanggung jawab, tidak melanggar hukum, dan tidak merugikan orang lain. Saya menegaskan dari awal kepada anak untuk memikirkan atau mengerjakan apa yang disukai dibanding memikirkan soal uang dan material.

Maksud saya prosesnya jangan dibalik. Memikirkan soal uang dulu trus mau ngapain. Karena dipikir-pikir tujuan uang pada akhirnya juga untuk buat orang bahagia dengan segala manifestasinya. Lha kenapa tidak langsung melakukan yang bikin happy saja? Kalau beruntung (hehehe)biasanya uang menyusul bagi siapa saja yang melakukan segala sesuatu dengan happy. Kalau tidak ya tidak apa, paling tidak hidup tetap kasih rejeki  buat hidup di kos-kosan dan bisa ngopi di warkop  lol.

Mau jadi pemain eSports profesional ? Mengapa tidak ? Siapa yang tidak suka main game? Hahaha. Ini satu hal yang sensitif dan dihindari secara alami jika berkait dengan segala sesuatu yang berbau edukasi. Kadang kita meremehkan potensi yang dipunyai anak untuk deal dengan hidup itu sendiri secara menyeluruh dan mengarahkan melulu untuk selalu berhubungan dengan “pabrik” yang bernama sekolah jika ingin hidup sukses dan bahagia. OOppss sorry !

Saya yakin tiap anak punya kecerdasan untuk menyesuaikan hidup dengan jamannya sendiri. Apa yang kita pikirkan ideal saat ini adalah untuk jaman kita. Dimana kita bisa survive, beranak pinak, punya kerjaan, sukses , punya banyak rumah. Atau gagal total dalam hidup ini hehehe. Yach itu masa kita. Kita tidak tau jika pada masa depan USAF (United States Air Force) merekrut pilot-pilot virtual dari berbagai negara untuk menjalankan drone canggih dari para pemain eSports dari berbagai negara secara online untuk  perang dengan Alien. Siapa tahu?

Blueprint kesuksesan yang dipikirkan ortu untuk anak biasanya sudah kadaluarsa seiring waktu mereka dewasa dimana kita tinggal menunggu jemputan maut. Mana ada internet saat kita sekolah dulu? Mana ada game online saat kuliah dulu ? Terus siapa diri kita dengan berani menentukan jalan hidup satu manusia? Meskipun itu anak kita sendiri? Siapa yang bisa menentukan langkah hidup ? Semua kisah sukses biasanya mengandung satu hal : Tidak bisa diprediksi ! Tidak terduga !

Kita hanya bisa mengiringi dengan doa dan restu. Kalau bisa mendukung sepenuh hati dengan ikut happy jadi partner dalam eSports, meski banyak kalahnya hehehe. Paling tidak ikut berpartisipasi dan melatih kelincahan jari tangan, kecepatan respon, pengambilan keputusan, melatih strategi, melatih kerja sama dan kekompakan tim, dan meningkatkan kadar bahagia hidup ini.

Seperti film “Ready Player One” yach begitulah cara cari uang yang cepat hehehe. Semua berjalan secara virtual, uang juga uang virtual, transfer uang juga secara virtual, uang yang kita punyai saat ini juga berupa angka virtual. Jarang ada yang menyimpan uang secara fisik dibawah bantal. Atau paling tidak pesan pizza juga tinggal klik sana-sini, bayarnya juga klik sini-sana.

Yang punya insting paling baik mengenai masa depan ya anak itu sendiri. Okelah mereka juga menciptakan masa depan mereka sendiri. Sedang kita ? Yach paling tidak berdiskusi adalah jalan tengah terbaik untuk mengatasi krisis antara keinginan anak dan harapan ortu. Tapi jika Anda menutup pintu diskusi dan menutup telinga, perkara ini jadi repot hehehe. Banyak hal buruk terjadi karena hal ini. Dan untuk melakukan diskusi diperlukan kerendahan hati bagi kita ortu yang banyak makan asam garam hidup. Ilmu berlimpah yang membuat kita maha tahu perlu di taruh di tikar dulu.

Terus bagaimana dengan sekolah ? Apakah eSports sebanding dengan unsur positif yang dipunyai sekolah ? Kalau mau jujur, seberapa banyak sekolah menyumbang kisah sukses hidup ? Program-program canggih yang Anda punya sekarang didesain para orang yang tidak lulus kuliah. Selama proses belajar masih berjalan, tidak ada masalah dengan orang yang sekolah tinggi atau hanya lulus SD. Menteri kita satu ya cuma lulus SMP hehehe. Pintar presidennya yang merekrut tanpa peduli soal gelar tapi lebih ke sisi profesionalnya.

Yach kalau mau sekolah ya sekolah sampai tinggi, jika itu memang minat anak untuk membuat hidup lebih oke. Kalau tidak, minimal ikuti program wajib belajar pemerintah aja. Hehehehe

Sekolah saat ini punya jalannya sendiri untuk sukses. Anda akan menolak jika saya katakan bahwa ilmu adalah untuk ilmu itu sendiri. Setiap orang yang pernah jadi mahasiswa tetap seorang terpelajar yang punya tanggung jawab untuk tetap belajar dan melakukan penelitian untuk sumbangsih ke masyarakat idealnya. Terlepas Anda akan jadi kaya apa tidak, ilmu adalah untuk perkembangan ilmu itu sendiri. Apa Anda hanya oke jika definisi sukses berdasar material ? Bukan menemukan hal baru yang berguna bagi orang lain ?

eSports merupakan satu perwujudan teknologi digital paling canggih entah berupa software maupun hardware. Realisasi kecerdasan buatan dimana Anda tidak bisa membedakan apakah satu hal dilakukan manusia apa program berlaku disini juga. Saya dengan aman dapat mengatakan jika seseorang ingin mengetahui kemana arah kompetisi masa depan, lihat eSports (Bukan lihat pembicara seminar yang gak pernah main game online hehehehe bercanda !).

Dalam eSports, sekat-sekat geografi dan budaya seakan hilang. Ini hal yang mengerikan sekaligus tantangan. Anda berhadapan dengan orang lain dari negara lain yang beda sama sekali dalam segala hal. Anda siap berkompetisi ? (Jika keunggulan dan kompetisi jadi kata kunci). Masa depan yang canggih sich kebanyakan tidak lepas dari kerangka virtual. Mereka yang biasa mainan game online (kalau tidak salah jalan hehehe) jadi terbiasa dan berjalan sangat cepat dibanding generasi sebelumnya yang masih tertatih-tatih dengan teknologi baru. Kalau Anda merasa kata “game” mengganggu, bayangkan aja eSports main catur sama superkomputer nomor 1 dunia bersamaan dengan para mahasiswa Harvard atau Princeton. lol

Jadi, daripada nanggung dan ngomel terus karena anak main game online, ikut main saja dan terjun langsung. Tidak ada yang lebih baik daripada ikut proses. Ikut terlibat kena tembak 🙂 Yach supaya bisa memahami lebih baik apa yang terjadi dan apa hikmah yang bisa diambil. Kalaupun anak ingin berkiprah dalam eSports secara profesional, ini signal bahwa anak Anda sudah melihat kerangka masa depan yang didominasi dunia virtual itu.

Kembali ke topik 🙂 Meski pilihan jalan hidup anak tidak sesuai harapan muluk dan ideal dari kita. Itu hidup mereka kok, yang melangkah ya mereka.Tidak perlu merasa menjadi dewa yang maha tahu akan belok ke mana kaki mereka. Hidup jalan dengan misterinya sendiri. Itu yang membuat sesuatu menjadi asyik hehehe. (Dan ortu ketar-ketir) Dan kita juga bukan Tuhan untuk mengadili.

Kesimpulan :

Simpulkan sendiri saja dech hehehe. Tulisan ini hanya opini dipagi hari yang santai. Ditulis sambil nyruput kopi 🙂 Bukan juga berupa tesis dengan paparan bukti ilmiah dan valid. Yang penting jangan ditelan mentah-mentah. Beda pendapat atau kontradiksi itu baik dan tidak masalah, paling tidak bisa menambah wawasan.

Peace !

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s