Cinta Jaman Jadul Vs Now

Jaman jadul dulu katanya gak (terlalu) butuh (banyak) materi buat cari cinta. Apalagi di kota kecil yang naek sepeda motor buat kluyuran sudah oke banget. Gak ada juga toko online yang instan. Persaingan juga santai aja soal tampilan dan gaya hidup, karena pembanding lewat Facebook atau Instagram tidak ada.

Internet masih jarang dan kalaupun ada masih mahal. Kecil kemungkinan iri hati sama tetangga karena gaya hidup mereka yang gitu-gitu aja. Apalagi tetangga kota besar. Hanya lewat saluran TV yang cuma ada TVRI saja tidak cukup buat pamer soal materi.

kalaupun ada jarak fisik bagi sepasang kekasih jadul, tinggal tulis surat dan masukkan kotak pos pinggir jalan.

Urusan surat gak mungkin dibuat singkatan yang sering bikin pusing.

Gmn kbr?Ap mslh lu smp tlt . Cptn krm brg tu . Oklah i msih bs ngerti, hnya bt psing kl bca bd gy . Jdi kl py 3 pc ank ml slmt ya bro lol

Trus butuh apa mereka? Imajinasi? lol Ada delay cukup lama untuk tau kabar satu sama lain. Mau telpon interlokal juga antri di wartel (warung telepon). Jangan bayangkan live chat. Hp saat itu masih jarang ada.

Celaka jika terjadi pertengkaran soal cinta di bilik wartel. Meteran angka duit yang jalan terus buat tambah gerah.

Imajinasi ini tercipta karena ada jarak fisik dengan orang tercinta. Kalau mau cari obat rindu? Pingin instan ya tinggal liat foto asli cetakan. Biasa barang ini ditaruh dompet atau bawah bantal hehehe.

Iya ini jaman Ram PC masih 4MB (empat Mega Byte) dan clock speed nongol 16MHZ di seven segmen. Tidak ada hardisk. Semua program, data, termasuk sistem operasi tersimpan di disket.

Urusan seleksi cari cinta juga berjalan lambat. Kriteria Bobot, bibit, bebet ya tetap jadi pertimbangan. Mungkin dari omongan tetangga kalau cewek ini punya riwayat sakit jiwa hehehe. Kakeknya adalah pejuang jaman dulu. Punya sawah sekian hektar, atau bekas ajudan menteri X.

Kalau jaman Now, bisa jadi seleksi awal terjadi lewat medsos. Jadi kalau gak tampil keren di medsos, bakal lewat bro. Tampil sebaik mungkin, meski cuma mejeng pakai mobil tetangga. Itu lebih baik daripada cuma foto pakai sepeda motor bebek jelek itu.

Cinta lewat batas.

Namanya cinta, gak ada pembatas yang bisa dibuat oleh manusia. Cinta itu melewati jaman bergerak maju mundur gak bisa diprediksi langkahnya. Namanya hati manusia siapa yang tau? Bahkan yang punya hati aja gak tau berapa dalamnya.

Jika cinta dibatasi oleh sekedar istilah jaman jadul dan jaman Now , apa ya dia mau? Terserah orang atau sejarah mau buat batasan periode, cinta sih cuek aja gak peduli.

Mungkin cinta itu abadi. Dia gak bisa dibunuh sekaligus dibatasi oleh ruang dan waktu. Mengembara dari satu masa ke masa. Karena hukum fisika gak berlaku, jadi seolah waktu jalan paralel. Jaman Old dan jaman Now. Karena cinta itu kekal, dia punya sifat yang sama sampai kapan pun.

Kembali ke pertanyaan di atas, jika cinta jaman jadul gak (terlalu) butuh banyak materi untuk hidupnya, apakah sekarang di jaman Now ini sifat cinta masih berlaku? Apakah cinta melakukan adaptasi agar bisa tetap eksis di jaman ini?

Jika asumsi cinta punya sifat yang sama dengan jaman jadul, maka yang namanya cinta jaman Now ini sudah sangat jarang ada. Atau sangat susah dicari. Entah dia sembunyi di mana. Tertutup oleh hingar bingar dunia yang penuh dengan materi. Ini ibarat mencari jarum di kebun. Bisa jadi gak ketemu sampai akhir hayat.

Jika asumsi cinta punya sifat yang fleksibel sesuai jamannya (dalam arti cinta butuh banyak materi untuk hidup), maka cinta ada dimana-mana dari tempat yang suci sampai tempat yang paling bejat. Selama Anda punya banyak materi, cinta akan mendekat.

Atau cinta mengambil jalan tengah untuk dirinya? Hehehe.

Tapi siapa diri ini yang bisa tau? Jika cinta itu maha besar sekaligus maha misteri, pengetahuan manusia macam mana juga akan kesasar jika berpikir dirinya tau kemana mesti melangkah.

Yang bisa dilakukan oleh manusia milenial mungkin memprediksi langkah cinta sesuai sifat manusia dengan ilmu psikologi dan kecerdasan buatan untuk beradaptasi. Tapi seperti gempa dahsyat yang barusan terjadi, siapa yang bisa tau? Patahan kerak bumi ada di kedalaman 10 Km dari permukaan.

Super Materi

Materi itu sendiri terdiri dari atom. Sedang bagian terkecil dari atom(ini asal berteori aja hehhehe)terdiri dari energi. Tidak ada yang lebih bertenaga dan punya energi dahsyat dari cinta. Film terbaik temanya ya cinta. Perang dunia terjadi gara-gara cinta (ohh yaa?) ๐Ÿ˜ .

Mungkin cinta itu sendiri adalah super materi yang gak bisa dan gak mau dibandingkan dengan materi lain soal harganya. Semakin jarang dan susah didapat biasanya semakin mahal materi itu. Mungkin cinta semakin lama jadi super super materi yang sangat mahal karena susah didapat.

Itu memang hak cinta untuk jual mahal hehehe. Kalaupun dia katakanlah bisa dibeli, itu mungkin cinta yang KW. Bukan Ori, tapi sangat mirip dengan yang asli. Caranya mudah untuk bedakan tapi butuh waktu. Seiring waktu, wadah tempat cinta bernaung akan semakin pudar, tapi tidak dengan cinta, karena dia abadi. Cinta yang KW seperti nilai investasi barang yang menyusut seiring waktu.

Jika cinta mengklaim dirinya tak bisa dibeli karena tak ada yang mampu beli termasuk Jack Ma atau Bill Gates sekalipun, terus gimana bisa dapatnya?

Ini paradox cinta. Karena cinta adalah sebuah anugerah, jika cinta tak memilih, maka mau usaha apapun termasuk jungkir balik keliling lapangan ya tetap gak bisa dapat. Tapi jika cinta berkenan, maka tinggal ngopi aja dia akan datang menemani hehehe.

Kesimpulan :

Saya menduga cinta semakin lama berevolusi jadi super materi yang sangat mahal karena semakin jarang keberadaannya.

Ini bukan materi jenis murahan yang tinggal gali dikebun belakang rumah sedalam 1 meter sudah dapat barangnya. Yang sering didapat justru cinta KW atau palsu.

Mesti ada perjuangan untuk menyelam lebih dalam dan dalam lagi untuk mencari mutiara yang berharga di dasar lautan. Dan menyelam adalah kegiatan paling beresiko. Cinta paling besar sih taruhannya nyawa kata orang ๐Ÿ˜

Peace!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s