Ini Budaya Sumba!

Satu kata dibisikkan ke telinga saat pak Ngaji Geti, sang kepala adat memakaikan ikat kepala dan memasangkan kain tenun:” Ini budaya (Sumba)! Ini puncak acara Pasola Wonokaka!”

Saya mengenakan kain tenun Sumba yang buatnya manual dan makan waktu bulanan. Ini kain tenun dengan hembusan mantra kuat akan kisah perjuangan hidup. Mengenakan kain tenun Sumba adalah berkat. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan ini. πŸ™‚

Pak Ngaji Geti sebagai tetua atau kepala adat adalah salah satu penentu kapan acara Pasola bisa diadakan di Sumba. Tanpa persetujuannya, acara tidak bisa digelar.

Pada acara Pasola, tiap peserta sambil menunggang kuda melempar lembing kayu ke arah musuh kelompok. Pada acara ini, tiap peserta punya resiko terluka bahkan terbunuh.

Jika mati dalam acara Pasola, maka orang itu dianggap menerima hukuman karena telah melanggar aturan adat dalam satu masa.

Meski telah ada modifikasi lembing yang dilemparkan dari tajam menjadi tumpul, tetap terluka bahkan kematian adalah resiko yang bisa terjadi.

Seandainya saya ikut sungguhan acara Pasola, pastilah diri ini dedel duel bahkan bisa-bisa “game over” hehehhe. Menunggang kuda saja (anggap saja) gak bisa. Apalagi “perang” saling lempar lebing.

Bisanya ya cuma mejeng ini sambil foto sama orang penting satu dusun. Numpang tenar juga acaranya para ksatria Sumba. Seolah-olah acara Pasola sedang berlangsung. Padahal Pasola berlangsung antara bulan February -Maret.

Tentu bangga mengenakan pakaian adat Sumba. Apalagi yang memakaikan kepala adat sendiri. Tidak ketinggalan parang panjang terselip di pinggang. Ceritanya, mereka adalah turunan prajurit perkasa yang selalu siap setiap saat dengan senjata di tangan.

Menginap dua malam di rumah adat Sumba punya atmosfir beda. Rasa aman meliputi saat kejadian gempa menimpa beberapa tempat di Nusantara. Ini adalah rumah tahan gempa. Rumah yang berdiri dari jalinan ratusan lonjor bambu yang kuat dan fleksibel. Rumah hasil olah pikir dan kearifan nenek moyang mereka selama puluhan abad.

Naungan pohon kelapa seperti tanda kehadiran Sang Pencipta yang selalu menyertai mereka. Pohon kelapa yang berguna dari akar, buah, sampai daun.

Seandainya mesti memilih, tidur di hotel bintang 5 atau rumah adat Sumba, saya pilih yang terakhir. Ini adalah pilihan terbaik yang bisa diambil dari segi apapun bagi seorang lelaki dewasa hehehhe.

Malam sebelumnya, Pak Geti dengan semangat omong kalau besok pagi saya mesti pakai baju adat Sumba. Pagi sebelumnya saya dibuatkan rokok klobot, mengunyah sirih dan pinang (baru pertama kali seumur hidup), dan akibatnya saya “fly” 10 menitan Hehehe.

Dua malam di rumah adat WeiWuang Sumba sedikit banyak memberi gambaran kehidupan di dusun adat. Ini adalah tempat awal mula tradisi Pasola lahir.

Cerita selanjutnya?

Kenapa gak datang sendiri? Daripada hanya liat di Web atau mendengar “kata orang”, lebih baik melihat dan merasakan sendiri.

Indonesia membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote. Nusa antara, antara pulau-pulau, salah satunya anugerah pulau Sumba.

Gimana cinta jika gak kenal? Gimana kenal jika gak paham? Gimana paham kalau gak datang? 😁

Peace!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s